Tiga kendala yang menjadi hambatan bagi kaum perempuan, yaitu akses terhadap informasi, akses bantuan finansial, dan aspek pengembangan diri.Lebih satu abad lalu, RA Kartini berjuang atas nama perempuan yang menuntut kesamaan hak dengan kaum laki-laki.
Bangsa Indonesia pun kemudian memperingati 21 April sebagai Hari Kartini untuk mengenang perjuangan dan keberhasilan Kartini dalam hal emansipasi perempuan.Berkat perjuangan tersebut, perempuan saat ini pun dapat menikmati berbagai kesamaan hak layaknya kaum laki-laki. Mulai dari pendidikan, pekerjaan, dan sebagainya. Namun ternyata, tidak semua perempuan dapat menikmati hak istimewa tersebut.
Direktur Pusat Pengembangan Sumberdaya Wanita (PPSW), Tri Endang Sulistyowati menjelaskan, saat ini 700 juta perempuan hidup dengan kurang dari Rp 10 ribu (1 dolar AS) per hari. Selain itu, sepertiga keluarga di dunia dibiayai oleh perempuan."Ini memperlihatkan bahwa peran perempuan di dunia sangat besar. Di samping itu, masih banyak perempuan yang memerlukan bantuan," ujarnya. Karena itulah, selama 24 tahun terakhir PPSW berupaya untuk melakukan pemberdayaan perempuan. Khususnya di masyarakat dengan tingkat ekonomi rendah.
Seperti yang diberitakan sebelumnya, bahwa pada bulan Juni-Oktober nanti, PPSW Jakarta, PPSW Pasoendan, PPSW Borneo dan PPSW Sumatera akan secara intensif melakukan kegiatan pembentukan Serikat Perempuan Basis di wilayah masing-masing.
Dimulai dari Workshop Perumusan Organisasi Kolektif bagi para Kader Lokal untuk pengenalan dan penyadaran akan sumberdaya yang begitu besar dan berpotensial di dalam diri masing-masig anggota kelompok teurtama kader kelompok; Mengapa kelompok perempuan dampingan PPSW perlu mentransformasi dirinya menjadi sebuah kekuatan utuh dan beridentitas yang disebut dengan Serikat?; Serta Pembahasan Draft AD/ART; Pembagian Tugas dan tanggung jawab proses pembentukan serikat, peran kader, peran pendamping, dll; serta Komitmen dan kesepakatan bersama.
Sebagai sebuah organisasi, Pusat Pengembangan Sumberdaya Wanita (PPSW) telah berevolusi, berubah seiring perkembangan kondisi yang ada.Saat ini PPSW telah menjadi sebuah organisasi asosiasi dengan empat lembaga otonom yaitu PPSW Jakarta, PPSW Pasoendan, PPSW Borneo, dan PPSW Sumatra.Sekretariat PPSW menjadi simpul yang mengkoordinir perkembangan lintas organisasi otonom agar tetap menjadi satu kesatuan gerakan asosiasi yang kuat dan efektif.
Di tingkat Asosiasi PPSW telah terjadi perubahan sistem organisasi, namun tidak demikian hal nya dengan di tingkat kelompok dampingannya.Ratusan kelompok yang ada masih berupa kelompok-kelompok swadayaorganik, yang fokus utamanya adalah pada pengembangan kredit mikro baik melalui Lembaga Keuangan Mikro (LKM) maupun Koperasi.
Ratusan kelompok perempuan basis yang telah terorganisir dan terlatih dengan baik ini, belum secara efektif terhimpun kekuatannya menjadi kelompok sosialyang diperhitungkan dalam sistem sosial kemasyarakatannya.Forum-forum bersama memang telah pernah dirintis oleh PPSW baik di tingkat provinsi maupun nasional.Akan tetapi forum-forum ini masih bersifat ad-hoc, sehingga belum dapat dijadikan kekuatan kolektif dalam sistem sosial politik kita.
Sekretariat PPSW (Pusat Pengembangan Sumberdaya Wanita) pada tanggal 10-11 Maret 2010 di Hotel Sahira Bogor, telah mengadakan Strategic Planning (SP). Kegiatan tersebut dihadiri oleh seluruh staf Sekretariat yang berjumlah 8 orang, plus 1 orang Ketua Badan Pengurus dan 2 orang Wali Amanah.
Secara umum SP tersebut bertujuan untuk memperkuat dan meningkatkan kapasitas tim sekretariat dalam mendukung perkembangan Asosiasi PPSW, karena Sekretariat merupakan tim pendukung bagi lembaga-lembaga anggota Asosiasi yang terdiri dari PPSW Jakarta, PPSW Pasoendan, PPSW Borneo, PPSW Sumatra dan Yayasan Raudhatun-Nisa.