|
Cerpen:
Do’a Buruh Gendong
Oleh: Endang Sulfiana
Kriiiing, Kriiing…………dering jam weker, nyaring terdengar membangunkan Tuminah yang tertidur pulas. Dilihatnya jarum jam weker yang menunjukkan angka tiga pagi. Lelah badannya setelah seharian bekerja sebagai buruh gendong pasar Beringharjo tak dihiraukannya. Dipaksakannya kakinya yang mulai kelelahan diujung umurnya yang menginjak 50 tahun. Rasa pegal begitu terasa, karena kemarin banyak barang yang digendongnya. Didalam lelahnya, Tuminah masih bersyukur, meskipun badannya pegal-pegal, hari kemarin ia dapat membawa uang sebesar 25.000 rupiah. Tidak setiap hari, ia beruntung dapat membawa uang sebanyak itu, yang cukup untuk beli beras untuk dua hari. Suami Tuminah, Taryo sudah dua tahun berpulang ke Rahmatulloh. Sekarang Tuminah harus menghidupi keempat anak-anaknya yang masih menjadi tanggungannya, dan dua orang cucu. Sebenarnya anak pertama Tuminah, Darmi sudah menikah dan memberinya dua orang cucu yang lucu-lucu. Tetapi sudah tiga tahun, suami Darmi tak pulang-pulang dan tidak ada kabar berita sejak kepergiannya ke negeri Jiran Malaysia untuk menjadi TKI.
Ketika adzan subuh menggema, Tuminah sudah siap dihamparan sajadah lusuhnya. Ia tetap khusu’ melaksanakan ibadah sholat setiap hari meskipun kelelahan fisiknya terus bergelayut. Didalam do’anya dia tak lupa minta diberikan rezeki untuk keluarganya dan dia juga berdo’a semoga kedua anaknya yang masih sekolah di SMP kelas III dan SD kelas lima tidak dipulangkan oleh gurunya karena sudah dua bulan menunggak bayaran sekolah. Jam 6.00 tepat, Tuminah bergegas melangkahkan kakinya ke pasar Bringharjo tempatnya mencari rezeki setiap hari. Hilir mudik mobil bak terbuka membawa berbagai macam barang pakaian dan sayuran sudah menjadi pemandangan yang biasa untuk kalangan orang-orang yang ada di pasar ini. Tuminah dengan sigap, segera menyongsong mobil yang berhenti tak jauh dari tempatnya berdiri. Karung besar berisi sayuran digendongnya dibelakang punggungnya yang mulai sering terasa linu ketika tiba dirumah. Alhamdulilah, sudah dapat tiga karung yang ia bawa. Tuminah tidak sendirian, ia ditemani banyak perempuan yang bernasib sama berebut membawa beban karung-karung tersebut kepada para pemiliknya. Untuk barang sekarung dengan berat kurang lebih 50 kg, ia biasa mendapat upah lima ribu rupiah sekarung. Untuk barang-barang yang lebih kecil, upahnya bervariasi mulai dari dua ribu sampai tiga ribu rupiah perkarung.
Matahari telah terik, Tuminah melihat jatuhnya bayangan matahari tegak lurus yang menandakan telah tengah hari, saat untuk istirahat dan makan siang. Bekal nasi yang dibawa dari rumah dimakannya dengan lahap meskipun dengan lauk sepotong tempe dan sedikit sayur daun singkong. Tuminah bersama teman-temannya menikmati makan siang mereka dengan penuh nikmat. Padahal banyak orang kaya tidak nafsu makan meskipun dengan banyak lauk yang berlimpah. Tuminah selalu mensukuri nikmat yang telah diberikan kepadanya. Setelah cukup istirahat, ia siap bertugas kembali. Badannya sudah terasa lebih segar setelah diisi nasi dan teh kental manis. Mobil barang membawa pakaian sudah ditunggunya sejak tadi. Tuminah masih sempat menggendong dua karung lagi sebelum matahari condong kebarat. Hari ini, Tuminah membawa pulang uang sebanyak 22.500 rupiah. Matanya menerawang jauh keujung langit membayangkan uang yang dibawanya sudah ditunggu anaknya untuk bayaran sekolah besok pagi. Tuminah berharap semoga Alloh yang maha kuasa masih memberinya kesehatan dan umur panjang, agar ia dapat mencari rezeki untuk anak-anak dan cucunya. “ Ya Allah, semoga anak dan cucuku menjadi orang yang lebih pintar dan punya pekerjaan lebih baik sehingga tidak perlu menjadi buruh gendong lagi. Amiin. Tak terasa, do’a yang dipanjatkannya tadi adalah doa yang mengantarkannya ketempat tidur, untuk beristirahat.
|