|
Perempuan dan Usaha Edelweis Bakery
Oleh: Tri Endang S dan Endang Sulfiana
Mulai Januari 2006 di wilayah Klender mulai terbentuk kelompok-kelompok perempuan dampingan PPSW Jakarta, yang merupakan kerja sama dengan ILO (international Labor Organization : sebuah organisasi buruh internasional) yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui peningkatan pendapatan.
Salah satu kelompok yang ada di wilayah tersebut adalah Edelweis yang terbentuk pada 6 Mei 2006. Kelompok ini kemudian merintis usaha bersama yang diberi nama “Edelweis Bakery”. Usaha ini memproduksi dan menjual kue basah, seperti pepe, lapis, risoles, pastel, lumpia, tahu isi, kroket, lemper, arem-arem, lumpur, talam lapis, talam ubi , roti dan aneka cake.
Usaha ini dirintis bersama oleh 4 orang pengurus dan anggota kelompok edelweis, mereka adalah Diah Widoretno Prihatingsih yang akrab dipanggil Ibu Diah, Hayati Husna yang biasa dipanggil Ibu Hayati, Ibu Kadmirah dan Ibu Anyi.
Pada awal merintis usaha, hanya satu orang Ibu Diah yang memiliki ketrampilan membuat kue. Sejak tahun 1990 Ibu Diah sudah memulai usaha membuat kue basah dan kue kering secara pribadi. Dengan modal Rp 200.000, Ibu Diah menekuni usaha kuenya sampai menjadi mahir dalam membuat berbagai macam kue-kue basah dan kue-kue kering, seperti castengels, nastar, kue kacang, kue mete, kue coklat, lidah kucing dan lain-lain. Kemudian Ibu Diah memberikan training ketrampilan membuat kue kepada ibu-ibu yang akan menjadi tim kerja dalam edelweis bakery.
Kue-kue basah yang diproduksi oleh edelweis bakery dipasarkan setiap hari di lingkungan tempat tinggalnya dan sejak beberapa bulan terakhir sudah merambah kekantor PPSW dan Pekka. Sedangkan kue kering diproduksi jika ada pesanan dan pada saat menjelang lebaran saja. Kue basah dijual dengan harga rata-rata Rp 1000/buah; sedangkan kue kering dijual dengan harga bervariasi mulai dari Rp 25.000 – 35.000/toples ukuran sedang.
Dengan pinjaman sebesar Rp 7 juta yang diperolehnya, mereka berempat membeli peralatan untuk membuat kue seperti mixer roti, mixer bolu, penggorengan, oven gas, kompor gas dan lain-lain. Sebagian dananya digunakan untuk membeli bahan-bahan kue. Pada saat ini omzet usahanya telah mencapai Rp 16 juta/bulan dengan laba bersih rata-rata Rp 3 juta/bulan. Laba bersih ini sebagian disimpan untuk kelompok menjadi dana sosial, dana cadangan, SHU kelompok dan biaya penyusutan peralatan dan sebagian dibagi kepada Ibu –ibu berempat sebagai pembuat kue.
Ibu-ibu ini berharap usahanya dapat maju, berkembang menjadi lebih besar dan dapat memberdayakan ibu-ibu di wilayahnya. Dengan dukungan suami, mereka optimis usahanya dapat dikembangkan lagi jika mendapat tambahan modal. Hambatan atau kendala yang dihadapi saat ini adalah tempat usaha kurang strategis dan transportasi kurang mendukung sehingga omzet menurun. Pesan untuk ibu-ibu yang sedang menjalankan usahanya: belajar dan bekerja keras, bertekad untuk maju dan terus bersemangat.
*Tri Endang S, adalah Direktur PPSW Jakarta
*Endang Sulfiana, adalah Direktur Sekretariat Perkumpulan PPSW
|